Cara Membebaskan Budak di Zaman Perbudakan telah Lenyap (Tadabbur QS. Al Balad, Bag.3)

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Balad [90] ayat 13-17:
“Faqqu raqabah, aw ‘ith-‘aamun fii yaumin dzii masghabah, yatiiman dzaa maqrabah, aw miskiinan dzaa matrabah, tsumma kanna minalladziina aamanu watawashawbish shabri watawashaw bil marhamah …”
Membebaskan perbudakan, atau memberikan makan pada hari kelaparan, (atau kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan, atau orang-orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

Ayat 13-17 menjelaskan 3 (tiga) perkara/perbuatan dan 5 (lima) sasaran yang dikategorikan sebagai perkara agung yang termasuk dalam karakteristik al-‘Aqabah, yakni:

1. Pembebasan perbudakan, tentu saja sasarannya adalah para budak
2. Memberikan makan, dengan sasaran:
– Orang-orang yang sedang mengalami kelaparan/bencana
– Anak-anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan
– Orang-orang miskin yang sangat fakir
3. Menasihati tentang kesabaran dan kasih-sayang, dengan sasaran saudara-saudara kaum Muslimin

Kali ini kita akan fokuskan dulu pada ayat ke-13.
Pembebasan budak adalah misi kemanusiaan, kemerdekaan dan perdamaian dalam Islam. Sebagaimana makna kata “Islam” yang sebahagiannya berarti “merdeka”, “selamat”, dan “damai”, maka pembebasan budak merupakan bagian dari upaya mewujudkan tujuan agama ini. Ia merupakan bagian dari keadilan sosial yang ditegakkan dalam Islam, di mana setiap manusia memiliki persamaan derajat dan martabat antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan di antara setiap manusia di mata Allah adalah kemuliaannya yang diukur dari indikator ketaqwaan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat [49]:13)

Di dalam konteks kehidupan bermasyarakat kita sehari-hari saat ini agak sukar rasanya untuk mengamalkan poin pertama dari perjalanan mendaki al-‘aqabah dengan cara membebaskan budak-budak karena akan kesulitan menemukannya, walaupun boleh jadi wujud perbudakan itu kini sulit teridentifikasi karena bentuknya telah berubah meskipun hakikatnya masih sama.

Apakah kita masih bisa mengamalkan ayat ini? Tentu saja! Kita masih bisa mengamalkan pembebasan budak dengan cara yang sangat mudah, yakni dengan membaca dzikir: “Laa ilaaha illaallaah wahdahuula syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qadiir …”

Bagaimana bisa membebaskan budak digantikan dengan amal dzikir? Tentu saja ada dalil yang mensyari’atkannya, yakni hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab Riyadhush Shaalihiin, disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Barangsiapa yang pada pagi hari membaca kalimat ‘Laa ilaaha illaallaah wahdahuula syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qadiir’ sebanyak seratus kali (100 X) dengan penuh keyakinan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, Allah akan mencatatkan sepuluh kebajikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, dan dilindungi dari gangguan syaithan hingga sore harinya, dan tidak ada seorangpun membawa amalan yang lebih utama daripadanya, kecuali orang yang membacanya lebih banyak lagi.”

Demikian pula dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari r.a. disebutkan:
“Apabila membacanya sepuluh kali (10 X), maka seolah dia membebaskan empat orang budak dari keturunan Isma’il.” Dalam hal perbudakan itu masih ada, maka kewajiban Muslim untuk melakukan pembebasan budak harus dilakukan sebagai amalan yang utama dan prioritas.

Inilah keadilan Allah untuk kita yang patut untuk disyukuri, di mana pada saat perbudakan itu sudah lenyap dimuka bumi, Dia masih memberikan kesempatan kepada kita untuk mengamalkan perintah membebaskan budak dalam bentuk dan cara yang lain. Mudah-mudahan kita diberikan keistiqomahan untuk menjalankan amalan sederhana ini. Aamiin … Wallaahu a’lam bish shawwab …

Sumber : tulisan via emaill dari kang Isa Syahroni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: